Apa sih makna ketupat itu? Ketupat dalam bahasa Jawa diterjemahkan dengan “Laku Lepat” yang di
dalamnya mengandung empat makna yakni: lebar, lebur, luber dan labur.
Lebar artinya luas, lebur artinya dosa/kesalahan yang sudah diampuni,
luber maknanya pemberian pahala yang berlebih, dan labur artinya wajah
yang ceria. Secara keseluruhan bisa dimaknai sebagai suatu keadaan yang
paling bahagia setelah segala dosa yang demikian besar diampuni untuk
kembali menjadi orang yang suci dan bersih.Seminggu setelah Hari Raya Idul fitri masyarakat di Indonesia ada yang mengadakan kegiatan syawalan.Tradisi syawalan
dikenali oleh masyarakat Jawa sebagai rangkaian dari tradisi keagamaan
karena dilekatkan pelaksanaannya seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri
dilaksanakan. Bahkan dibeberapa tempat dinamakan sebagai Bakda Ketupat
(Lebaran Ketupat) atau lebaran kedua setelah lebaran utama pada perayaan
Idul Fitri 1 Syawal. Berbagai kelompok masyarakat di berbagai daerah
mempunyai ciri dan caranya masing-masing dalam memaknai Lebaran Ketupat.
Tradisi syawalan di Jimbung
Masyarakat Klaten khususnya yang bermukim di dua desa dan dua kecamatan
(Desa Krakitan, Kecamatan Bayat dan Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes)
masih memegang teguh tradisi sebar ketupat yang konon diyakini ngalap
berkah dari para leluhurnya atau para pendahulunya di lokasi sendang.
Dalam pelaksanaan tahun-tahun berikutnya di dipindahkan ke Bukit
Sidhoguro, tak jauh dari Rowo Jombor, Jimbung yang oleh masyarakat
Klaten juga dikenal sebagai obyek wisata alam sendang Bulus Jimbung.
Namun di tahun 2012 ini syawalan nyebar ketupat diadakan di dua tempat. Selain di Bukit Sidoguro di dekat sendang Jimbung juga diadakan acara nyebar ketupat. Ini merupakan kali pertama setelah beberapa tahun tidak diadakan di Jimbung ini. Acara nyebar ketupat di Jimbung ini dipelopori oleh warga Jimbung sendiri yang dikelola oleh aparat desa setempat. Dalam acara tersebut setiap dusun mengeluarkan kiraban ketupat sendiri. Namun ada juga warga setempat yang mengeluarkan kiraban ketupat.
Acara yang dimulai sekitar Pk. 09.00WIB dimulai kirab dari Balai Desa Jimbung tepatnya di desa Jiwan diarak menuju lokasi dengan berjalan kaki. Acara tersebut mengundang antusias para warga setempat dan luar jimbung. Sungguh sangat meriah dalam acara tersebut.Proses penyebaran ketupat pun juga sangat luar biasa karena mereka saling berebut memperebutkan ketupat. Bahkan mereka saling melempari ketupat. Bukan emosi tapi sebagi wujud senang alias gembira. Hehehehe....
Waduh tanpa disangka waktu saya naik ke panggung untuk mengambil gambar, tiba-tiba ada ketupat yang melayang mengenai perutku. :(. Tapi tetep bersyukur karena untung tidak mengenai kameraku.
Wah pokoknya asyik dech. Jangan lewatkan acara syawalan tahun depan ya pokonya dijamin ayik dan meriah. Nanti kalo kecapekan bisa mampir ke warung bakso dan mie ayam Bandi (punya kakakku lo) lokasinya di bawah pohon beringin besar sebelah sendang Jimbung ya dijamin uenak, murah, banyak. Hehehehe.........
Selasa, 11 September 2012
Kamis, 26 Juli 2012
Mukjizat di Balik Lebah
Lebah merupakan binatang yang sangat unik. Lebah ini sangat bermanfaat bagi kehidupan ini. Tidaklah sia-sia Tuhan menciptakan segala sesuatu di dunia ini. Lebah ini bahkan menghasilkan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi manusia sebagi obat. Sebagimana terdapat dalam Al Quran: “…Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl: 69).
Tahukah anda kalau sebenarnya lebah menghasilkan 4 macam produk. Orang-orang awam hanya tahu madu sebagai produk lebah. Namun selain madu lebah juga menghasilkan royal jelly, bee polen, dan propolis.
Beberapa manfaat madu diantaranya:
- Madu dapat menjaga kelembaban tubuh
- Melancarkan buang air kecil
- Membantu mengeluarkan dahak
- Memutihkan gigi
- Menyuburkan rambut
- Menjaga metabolisme tubuh
- Dan masih banyak manfaat lainnya.
Hari Jadi Klaten ke 208 Tahun 2012
Acara peringatan HUT Klaten yang ke 208 yang jatuh pada Bulan Juli 2012 diisi dengan berbagai kegiatan. Pemerintah Kabupaten Klaten menyelenggarakan berbagai kegiatan diantaranya pentas gelar budaya, wayang kulit 101 dalang, dzikir dan sholawat, Klaten UMKN EXPO 2012 di Masjid Raya Klaten, dan masih banyak kegiatan lainnya.Kegiatan tersebut disambut meriah oleh warga Klaten dan sekitarnya.
Kegiatan pentas wayang kulit 101 dalang diselenggarakan di sepanjang jalan pemuda mulai dari GOR Gelar sena sampai depan Pemda. Tempatnya di setiap perempatan di jalan pemuda. Ketika saya hunting foto kemarin, dari berbagai tempat kemarin yang paling ramai dan gayeng di depan BRI pusat karena dalangnya Tomo Pandoyo. Tapi akhirnya jam 02.00WIB mata ini dah gak bisa diajak kompromi lagi dan akhirnya saya pulang juga. Hehehe.....
Paginya bersamaan dengan CFD diadakan pentas budaya sepanjang jalan pemuda tapi sayang beribu sayang saya kesiangan datangnya. Makhlum habis begadang.
Wayang kulit juga diadakan dengan dalang Ki Anom Suroto di Alun-alun Klaten. Wah ramainya luar biasa sampai saya mau ambil gambar aja nunggu sampai jam duaan karena banyaknya penonton. Hampir semua kalangan baik anak kecil, remaja, dewasa, orang tua, laki-laki maupun perempuan datang berduyun-duyun menyaksikan wayang kulit ini. Mereka rela tidur di lapangan sambil menyaksikan wayang kulit ini.
Kegiatan lainnya yaitu tari gambyong yang melipatkan 20.000 penari. Tari Gambyong yang berdurasi 17 menit dan Tari Kuda Lumping berdurasi 15 menit.
Kegiatan reog pun juga diadakan pada sore harinya jam 15.00WIB tapi kemarin jadwalnya maju tapi saya terlambat datang dan hanya kebagian sebentar. Reog kemarin diikuti oleh 75 group reog. Bahkan diringi juga penari-penari yang cantik-cantik lo.
Rabu, 25 Juli 2012
Ada Apa dibalik Sadranan?
Pada Bulan Syakban, umat Islam banyak yang mengikuti tradisi sadranan. Ngemron menuturkan sadranan berasal dari kata shodrun yang berarti dada. Di dalam dada ada qolbun atau hati.
Oleh karena itu sebelum puasa kita dipersiapkan untuk menjaga hati ini sebaik-baiknya.
Sadranan merupakan sarana untuk mengingat kematian dan menjalin silaturahim. Siapa saja yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya harus memperbanyak silaturahim.
Ada beberapa hal yang perlu diluruskan terkait sadranan yaitu
Pertama, tidak meminta kepada orang-orang yang sudah meninggal tapi mengingat akan kematian dan mendoakan arwah leluhur, keluarga, orangtua.
Kedua, makanan yang dibawa orang-orang yang hadir di sadranan bukan bentuk sesajen. Makanan itu merupakan sedekah karena kemudian dimakan bersama-sama. “Sajen itu tidak dimakan. Kalau di sadranan, makanannya dimakan. Ada kebersamaan ketika makan bersama,”
Di dalam masyarakat jawa, menjelang datangnya bulan suci ramadhan tepatnya dibulan Ruwah / Sya’ban ada tradisi yang bernama Sadranan. Menurut sejarah, Sadranan ini telah turun-temurun sejak dulu. Pada saat masyarakat jawa belum beragama Islam, Sadranan ini dilaksanakan sebagai pemujaan pada arwah leluhur yang telah meninggal dunia. Setiap bulah ruwah masyarakat selalu menyiapkan sesaji (sajen) yang diperuntukkan untuk para arwah-arwah tersebut. Sesaji untuk upacara pada masa lalu berwujud makanan mentah, daging mentah, dupa dan darah. Dengan berbagai sajen yang dipersembahkan kepada arwah tersebut, mereka berharap mendapatkan keselamatan, kesejahteraan dan keberkahan hidup. Semua makanan tersebut diletakkan di kuburan-kuburan, punden, batu besar, sungai, pohon besar atau ditempat yang dianggap keramat lainnya.
Era kerajaan Islam Demak dengan rajanya Raden Patah dan dibantu penasihat spiritualnya, yaitu Walisanga merupakan babak baru perubahan yang sangat mendasar atas tradisi sadranan ini. Walisanga tetap mempertahankan tradisi sadranan, tetapi substansinya diisi dengan nilai-nilai Islam. Sadranan tidak lagi dipersembahkan kepada arwah leluhur, tetapi merupakan sarana untuk mendoakan agar arwah para leluhur tersebut bisa tentram, damai di sisi Allah SWT. Makanan yang semula berupa makanan mentah, daging mentah dan darah diganti dengan makanan dan minuman yang baik, hasil dari pertanian dan peternakan yang dimiliki oleh masyarakat. Tempat Sadranan yang dulu dilakukan di pekuburan dan tempat yang dianggap keramat, dipindah dan dilaksanakan di Masjid-masjid atau rumah sesepuh. Hal ini mirip sebagaimana Rosulullah SAW berdakwah dalam menyikapi tradisi kaum jahiliyyah diantaranya dalam melestarikan tradisi Aqiqoh. Konon sebelum kedatangan Islam, kaum Quraisy jahiliyah ketika ada yang melahirkan, mereka menyembelih kambing. Namun kambing sembelihan itu dipersembahkan untuk berhala dan perut dari si bayi dilumuri dengan darah sembelihan. Ketika Islam datang, Rosulullah tetap melestarikan tradisi penyembelihan kambing ketika ada kelahiran, namun daging kambing itu di sedekahkan.
Rangkaian kegiatan sadranan ini dilaksanakan dengan berbagai variasi sesuai dengan adat masing-masing daerah. Pada umumnya sadranan diawali dengan bersih-bersih makam. Acara bersih kubur ini merupakan kegiatan pembuka dan melibatkan seluruh masyarakat desa. Setelah bersih-bersih makam, kegiatan dilanjutkan dengan membersihkan jalan-jalan, pasar, balai desa atau tempat lainnya yang memiliki fungsi sebagai tempat publik. Setelah itu, dilanjutkan dengan acara Munjung, yaitu kegiatan saling mengirim makanan kepada para kerabat, tetangga dan orang-orang yang di hormati. Munjung berasal dari kata kunjung yang artinya mendatangi. Munjung biasanya dilakukan oleh anak-anak dimaksudkan agar anak-anak lebih mengenal silsilah keluarga atau kerabat. Setelah Munjung selesai, kegiatan berikutnya adalah kenduri, selamatan atau bancakan. Kenduri ini biasanya dilakukan secara bersamaan atau dilaksanakan di Masjid yang dipimpin oleh seorang Kiyai atau orang yang disepuhkan di desa tersebut.
Selasa, 24 Juli 2012
Batik Tulis Bayat
Beberapa sentra produksi di Kecamatan Bayat, antara lain
Batik Cap di Desa Beluk, Batik Tulis di Desa Jarum dan Desa Kebon, dan Batik
Tenun Lurik di Desa Tegalrejo. Untuk proses pembuatan batik dari penggambaran
motif batik, pembatikan, pencelupan, pengeringan, pengemasan sampai produk
batik siap dipasarkan terdapat di Kabupaten Klaten itu sendiri. Sehingga tenaga
kerja sebagian besar berasal dari Kecamatan Bayat yang telah menekuni usaha
batik karena membatik dilakukan secara turun-temurun.
Senin, 23 Juli 2012
Uniknya Gaya Miring Proses Pembuatan Gerabah di Bayat Klaten
Bayat adalah nama sebuah kecamatan di daerah Klaten, Jawa
Tengah. Salah satu dusunnya, yang bernama Pager Jurang, terkenal sebagai pusat
pembuatan gerabah. Gerabah yang dibuat di sini kebanyakan untuk keperluan
sehari-hari. Misalnya, mangkuk, teko air, gelas, pot, atau meja kursi. Lokasi
sentra Kerajinan Gerabah Bayat ini berada sekitar 15 KM selatan kota Klaten. Di
wilayah seluas kurang lebih 300M2 itu terdapat sekitar 70 pengrajin gerabah dan
keramik yang menggantungkan matapencahariannya dari aneka kerajinan berbahan
dasar tanah liat tersebut.
Di Bayat ini pembuatan gerabahnya dilakukan secara miring di
sebelahnya. Pembuatan gerabah di Bayat memiliki sejarah yang menarik.
Ceritanya, dulu, kebanyakan pembuat gerabah di Bayat adalah ibu-ibu. Pakaian
ibu-ibu zaman dulu berupa kebaya dan jarik. Ini adalah kain batik yang
dililitkan menutup tubuh bagian bawah. Ibu-ibu ini malu jika harus memutar
perbot sambil duduk membuka kaki seperti para lelaki. Oleh karena itu,
dibuatlah perbot khusus untuk mereka.
“Teknik ini juga
memudahkan pekerjaan mereka. Teknik putaran miring dapat menciptakan hasil
gerabah berbentuk tipis dan kecil. Biasanya teknik ini menghasilkan kendi,
piring dan wajan. “Keunikan proses teknik miring ini juga yang menjadi daya
tarik para peneliti dari luar negeri untuk mengadakan penelitian.
Nah besok kalau berkunjung kesana Anda juga bisa membawa
pulang hasilnya sebagai suvenir. Tak hanya bisa belajar gerabah saja, di sini
pengunjung juga bisa mlihat aktifitas warga memproses gerabah mulai dari
penyiapan tanah liat, gerabah mentah, penjemuran, hingga pada proses pembakaran
dan finising.
Gerabah Bayat dibuat sealami mungkin. Pewarnaannya
menggunakan tanah merah. Dibakar dengan tungku tradisional. Warna hitam
kecoklatan dibuat lewat pengapasan, yang disebut proses reduksi. Sama sekali
tidak menggunakan tambahan zat kimia. Prose salami ini membuat gerabah Bayat
lebih aman digunakan untuk memasak atau tempat sajian makanan dan minuman.
Melirik Pembuatan Lurik Pedan Klaten
Mayarakat Klaten memiliki kain khas daerah yaitu kain Lurik
Pedan yang keberadaannya hampir menghilang. Upaya pelestarian dari Pemerintah
Kabupaten Klaten dengan cara mengeluarkan kebijakan tentang uji coba penggunaan
pakaian Dinas tenun tradisional atau batik khas daerah yaitu kain Lurik Pedan,
lalu apa yang melatarbelakangi kain Lurik Pedan itu digunakan sebagai pakaian
dinas oleh Pemerintah Kabupaten Klaten. Industri kain Lurik Pedan di Klaten
lebih berkembang di luar daerah Pedan, yaitu di daerah Trucuk, Cawas, dan
Bayat. Industri kain Lurik Pedan yang tersebar di beberapa kecamatan di
kabupaten Klaten ini tidak hanya satu industri saja namun terbagi dalam
kelompok-kelompok pengrajin kain Lurik Pedan
Kain Lurik Pedan dibuat dari benang katun pilihan yang
ditenun secara cermat dan teliti oleh para pengerajin di desa Pedan, Klaten
dengan menggunakan alat tenun tradisional. Proses pewarnaan dimulai dari benang,
sehingga warna kain depan dan belakang adalah sama. Corak tenun membentuk garis
vertikal memanjang dengan kombinasi warna yang sangat variatif. Cocok untuk
bahan pakaian kantor, kondangan, busana pria dan wanita, sarung bantal kursi
dan aplikasi lainnya.
Setelah beberapa masa terpuruk, kini lurik mulai
menggeliat. Program Lurikisasi yang diusung Pemkab Klaten dengan mengeluarkan
kebijakan agar karyawan Pemkab Klaten mengenakan lurik Pedan sebagai seragam
pada hari Kamis tentu saja bukan hanya bisa mengangkat kembali nama lurik, tapi
juga potensi ekonomi lokal.
Kain Lurik Pedan dibuat dengan menggunakan bahan benang
katun yang ditenun dengan alat tenun tradisional (ATBM). Sedangkan untuk proses
pewarnaan dimulai dari benangnya, sehingga setelah benang ditenun sempurna maka
warna kain depan dan belakang adalah sama. Corak-corak dari lurik sendiri
cenderung vertikal memanjang. Namun corak tersebut tidak hanya monoton begitu
saja. Akhir-akhir ini banyak desain-desain menarik yang coba dikembangkan oleh
para pengrajin dengan desain motif yang tidak selalu berbentuk vertikal lurus
dan memanjang namunada aplikasi-aplikasi lain yang membuat kain lurik ini kian
menarik.
Ketika kami melakukan kunjungan kemarin cuaca sangatlah
tidak mendukung karena disamping hujan juga waktu sudah terlalu sore jadi para
pekerja sudah pulang hanya tersisa dua orang. Apa boleh buat kami ambil gambar
seadanya. Mungkin suatu saat kalau ada waktu anda bisa langsung ke TKP lebih
menyenangkan karena kita bisa melihat para pekerja yang kebanyakan
mbokde-mbokde yang sedang menganyam lurik dengan penuh ketulusan dan kesabaran.....
Langganan:
Postingan (Atom)





















